Skip links

RUMOH PEULULÉH Karya Titik Efianti, Arsitektur Gotong Royong untuk Pemulihan Pasca Banjir Sumatera

Dari Sisa Bencana Menjadi Harapan: Arsitektur Gotong Royong untuk Pemulihan Aceh

YPA Architecture Studio mengucapkan terima kasih kepada Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat dan Yayasan Haji Taqyuddin Rasyid Nusantara (Yahintara) atas terselenggaranya Sayembara Wakaf Desain Arsitektur Rumah Pascabencana Banjir Sumatera. Ajang ini bukan hanya ruang kompetisi gagasan, tetapi juga wadah kontribusi nyata arsitektur terhadap kemanusiaan.

Dalam sayembara tersebut, Titik Efianti mewakili YPA Architecture Studio melalui karya berjudul RUMOH PEULULÉH dengan nomor peserta 01P-041 – sebuah konsep hunian pemulihan berbasis gotong royong dan pemanfaatan material pascabencana di Aceh.

Ketika Rumah Hilang, Apa yang Sebenarnya Runtuh?

Banjir dan longsor tidak hanya merobohkan bangunan. Ia meruntuhkan rasa aman, stabilitas keluarga, bahkan identitas tempat tinggal itu sendiri. Banyak warga kehilangan:

  • Rumah sebagai ruang berteduh

  • Harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun

  • Struktur sosial antar tetangga

  • Akses terhadap air bersih dan sanitasi

Dalam kondisi tersebut, membangun kembali bukan sekadar membangun fisik. Yang dibutuhkan adalah pemulihan menyeluruh.

Rumoh Peululéh lahir dari pertanyaan sederhana:

Bisakah rumah dibangun kembali dengan biaya rasional, material lokal, dan semangat kebersamaan?

Makna “Peululéh”: Pulih yang Dikerjakan Bersama

Dalam bahasa Aceh, “Rumoh” berarti rumah, dan “Peululéh” bermakna dipulihkan atau kembali. Namun dalam konteks desain ini, pulih bukan berarti kembali seperti semula – melainkan bangkit dengan cara yang lebih adaptif dan berdaya.

Konsep ini mengusung nilai Meugantoe (gotong royong) sebagai fondasi sosial. Rumah dibangun bukan hanya oleh tukang, tetapi oleh komunitas.

Rumoh Peululéh adalah:

  • Metode pembangunan

  • Sistem pemanfaatan material bekas

  • Model rumah inti 20 m² yang dapat berkembang

  • Simbol solidaritas warga bantu warga

Strategi Desain: Sederhana namun Sistemik

1. Material: Kayu Bekas sebagai Sumber Daya

Salah satu dampak pascabencana adalah banyaknya batang pohon dan material kayu tersisa. Alih-alih dibuang, material ini dimanfaatkan kembali sebagai:

  • Dinding papan bagian atas

  • Struktur balok lantai kayu 6/12

  • Partisi kayu

  • Elemen kusen dan detail interior

Pendekatan ini mengurangi limbah, menekan biaya, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

2. Struktur: Kombinasi Rasional Kayu dan Beton

Struktur dirancang sederhana, efisien, dan mudah dikerjakan secara bertahap:

Pondasi

  • Pondasi umpak beton 40×40 cm

  • Footplate 50×50 cm

  • Sloof beton khusus area kamar mandi

Kolom & Balok

  • Kolom kombinasi kayu dan beton

  • Balok beton bertulang

  • Bekisting tripleks dan kaso 4/6

Dak Atap Kamar Mandi

Area kamar mandi menggunakan struktur beton dengan dak atap untuk menopang tangki air ±650 liter. Solusi ini menjawab kebutuhan utama pascabencana: ketersediaan air bersih yang stabil.

3. Adaptasi Iklim Tropis

Desain mempertimbangkan suhu dan kelembaban tinggi:

  • Lantai utama sedikit ditinggikan dari tanah

  • Celah ventilasi 5 cm untuk sirkulasi udara

  • Dinding bawah GRC + baja ringan waterproof

  • Dinding atas papan kayu

  • Atap spandek pasir hitam untuk efisiensi waktu konstruksi

Talang air dirancang untuk mengalirkan air hujan ke dua sisi bangunan, sebagian dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman sebagai bagian dari sistem pengelolaan lahan mandiri.

Tata Ruang: Ringkas, Fleksibel, dan Berkembang

Dengan luas ±20 m², ruang dibagi menjadi:

  1. Teras

  2. Ruang multifungsi

  3. Dapur

  4. Kamar mandi

Ruang multifungsi menjadi inti rumah- tempat tidur, ruang keluarga, bahkan ruang aktivitas ekonomi kecil. Konsep ini memungkinkan rumah berkembang sesuai kebutuhan dan kemampuan penghuni.

Tahapan Pembangunan: 8 Langkah Pemulihan

Rumoh Peululéh dirancang dalam sistem bertahap:

  1. Pekerjaan pondasi

  2. Struktur kolom dan sloof

  3. Struktur kamar mandi & dak

  4. Rangka atap kayu

  5. Dinding bawah GRC

  6. Lantai kayu multiplek

  7. Pemasangan atap spandek & talang

  8. Instalasi MEP dan finishing

Sistem ini memungkinkan pembangunan kolektif berbasis gotong royong dengan efisiensi tenaga dan biaya.

Dampak Jangka Panjang

Rumoh Peululéh bukan hanya solusi jangka pendek.

Lingkungan

Mengurangi eksploitasi material baru melalui reuse kayu bekas.

Sosial

Menghidupkan kembali semangat solidaritas komunitas.

Ekonomi

Biaya rasional membuka peluang replikasi melalui skema wakaf.

Ketahanan Pangan

Pengelolaan lahan sekitar rumah mendukung kebutuhan dasar keluarga.

Arsitektur yang Menguatkan

Rumoh Peululéh bukan sekadar desain 20 meter persegi.
Ia adalah gagasan tentang bagaimana arsitektur dapat hadir di saat paling sulit.

Melalui karya ini, Titik Efianti menunjukkan bahwa:

  • Desain kecil bisa membawa dampak besar

  • Material sederhana bisa bermakna dalam

  • Rumah bisa menjadi titik awal pemulihan kehidupan

Rumoh Peululéh adalah sebuah niat agar arsitektur dapat hadir membantu sesama dalam menjalani proses menjadi pulih.

Leave a comment

Search
Home
Back